Kamis, 30 Mei 2013

Mengungkap Strategi Iran Melawan Amerika


Mengungkap Strategi Iran Melawan Amerika


Judul : Singa Padang Pasir Menerkam Amerika dan Sekutunya
Penulis : Rizem Aizid
Penerbit : Palapa, Yogyakarta
Cetakan : I, Maret 2013
Tebal : 260 halaman
ISBN : 978-602-255-039-6

Konflik di Timur Tengah tak pernah usai. Gejolak politik semakin memanas. Bahkan, konflik merambah dan mengembang antar negara karena posisi yang sama-sama terancam. Konflik Iran dengan Amerika masih menjadi hal yang menarik dan hingga kini menjadi perbincangan hangat. Iran menjadi negara Islam yang sangat berani melawan Amerika hingga ia dijuluki singa di padang pasir.
Rizem Aizid dalam buku ini memotret konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Iran menjadi satu-satunya negara Islam yang ditakuti oleh Amerika. Iran disebut-disebut menjadi satu-satunya negara Islam terkuat di dunia saat ini. Iran adalah potret masa depan negara Islam yang dapat menjadi teladan bagi negara-negara Islam lainnya yang berpenduduk mayoritas muslim seperti di Indonesia.
Kekuatan Iran tidak hanya terletak pada senjata nuklirnya, tetapi merata dalam semua bidang seperti ilmu pengetahuan yang pesat, kekayaan alam yang melimpah, dan merupakan sumber ekonomi besar bagi peradaban dunia.
Dibawah kepemimpinan Ahmadinejad, Iran menjadi negara yang tampil beringas dan berani berhadapan dengan hegemoni Amerika Serikat. Ahmadinejad adalah representasi dari pemimpin sejati. Dibawah kepemimpinannya, Iran semakin menunjukkan sebagai singa di padang pasir yang berani bersinggungan dengan negara-negara Barat. Bahkan, Iran kerapkali bersitegang hingga memunculkan kegeraman bagi Amerika.
Dalam buku ini, Rizem membuka dengan jelas strategi negara Islam Iran dalam menghadapi negara terkuat di dunia yaitu Amerika Serikat. Dalam tataran politik, Amerika adalah negara yang paling santer membenci Iran dan melakukan pelbagai cara untuk memukul mundur Iran dari peradaban dunia. Salah satu taktik yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat dalam mengemboskan dan menghancurkan negara Islam Iran adalah embargo ekonomi. Namun, embargo tersebut sama sekali tak mampu menggoyahkan Iran dari posisi puncaknya (hlm 19).
Ahmadinejad dalam beberapa kesempatan selalu berteriak lantang bahwa negaranya tak akan pernah tunduk pada intervensi dan desakan berbagai pihak, termasuk negara-negara Barat dan para sekutunya. Sebagaimana jamak diketahui, Amerika mendesak Iran untuk menghentikan pengembangan teknologi nuklir. Namun bagi Iran, pengembangan teknologi nuklir tersebut bertujuan untuk damai.
Ahmadinejad hendak mempertahankan Iran dalam percaturan politik dan ekonomi yang unggul sebagaimana telah dimulai sejak sebelum lahirnya Islam dan Iran masih bernama Persia. Kini, di bawah kepemimpinannya, Iran seolah ingin semakin menegaskan kepada dunia bahwa mereka adalah bangsa yang tangguh dan hebat seperti leluhurnya.
Rizem Aizid dalam buku ini berhasil menangkap strategi Ahmadinejad dalam menghadapi Amerika. Menurutnya, Ahmadinejad memainkan metode “masak air”. Mula-mula menurunkan pelbagai pernyataan menantang sebagai pendedah awal masalah, lalu dinaikkan tensinya menjadi hangat dalam perhatian publik hingga kemudian mendidih. Akibatnya, Amerika dan sekutu abadinya, Israel, merasa takut dan terancam menghadapi pesatnya kemajuan segala bidang di negari para mullah ini.
Beberapa pertimbangan Amerika memang menjadi pemantik kekaguman kepada Iran. Ketakutan akan senjata nuklir, krisis ekonomi dalam negeri, serta masa jaya Iran selama ratusan tahun, membuat Amerika khawatir. Popularitas dan keberanian Ahmadinejad juga jauh berbeda dengan diktator lainnya seperti Khadafy, Saddam Husein, atau Mubarak. Iran tak pernah surut dalam mempertahankan negaranya. Bahkan, perlahan memperlihatkan keberanian yang tajam dan tak mudah dirayu oleh Amerika. Iran dan para pemimpinnya sangat bengal terutama saat menghadapi berbagai manuver politik dari Amerika.
Ahmadinejad bercita-cita mengembalikan Iran seperti masa-masa keemasan awal revolusi Islam dengan memadukan paham kerakyatan dan nasionalisme religius sembari membangun kepercayaan diri untuk publik Iran. Ahmadinejad menegaskan bahwa Iran yang dikekang sanksi ekonomi dan politik justru adalah korban terorisme negara oleh AS dan sekutunya. (hlm 32).
Iran merupakan negara islam yang berani dengan terang terangan memusuhi Amerika dan zionis israel. Keberanian Iran bukan hanya terbatas kepada pemerintahannya saja tetapi rakyat seluruh Iran bersatu menentang zionis dunia itu. Buku ini mengajarkan keberanian seorang pemimpin dari intervensi asing yang hendak menjerumuskan dalam kubangan ideologi dan politik praktis.

Furaida Ayu Musyrifa (Ayu Arsyadie)  Mahasiswi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Walisongo Semarang

Dimuat di Harian Jateng Pos edisi Minggu 26 Mei 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar